Wednesday, December 30, 2009

Duka Cita untuk Gus Dur dari Twitter, Facebook, dan Parpol


JAKARTA--Di tengah rintik gerimis, Republika menerima kepastian kabar meninggalnya Abdurrahman Wahid atau yang lebih kerap dipanggil Gus Dur. Singkat saja. ''Iya.. (Gus Dur meninggal),'' kata Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) di DPR, Marwan Ja'far, Rabu (30/12) jelang Isya.

Kepastian lebih tegas pun disampaikan oleh asisten pribadi sekaligus 'tangan kanan' Gus Dur, Bambang Susanto. ''Betul, Gus Dur seda. Sekarang masih di RSCM,'' ujar dia.

Kabar meninggalnya Mantan Presiden ini, menyebar cepat melalui layanan pesan singkat (SMS) maupun melalui jejaring sosial di dunia maya. Twitter misalnya. Innalillahi...bubye..GusDur .. May you rest in peace,'' tulis salah satu penggunanya. Sementara kabar meninggalnya Gus Dur juga di-upload Bambang melalui facebook.

Duka pun tak hanya menjadi milik warga PKB maupun Nahdliyin. Sekjen PDIP Pramono Anung mewakili seluruh jajaran partainya langsung menyatakan duka citanya. Dia pun bergegas menuju RSCM, rumah sakit tempat Gus Dur menghembuskan nafas terakhirnya.

''Saya sudah komunikasi dengan Mbak Mega (Megawati Soekarnoputri, ketua umum PDIP, red). Beliau menyatakan kehilangan teman dan sahabat yang dekat sejak dulu,'' kata Pramono, Rabu (30/12) malam. Megawati pun, imbuh dia, langsung bertolak dari Bogor untuk melayat ke RSCM malam itu.

Ucapan duka cita juga langsung datang dari PPP. Wakil Sekjen PPP Romahurmuzy melalui layanan pesan singkat (SMS) menyatakan DPP PPP menyatakan turut berduka cita atas wafatnya Gus Dur.

Selain ikut berduka, imbuh Romahurmuzy, PPP juga mengusulkan kepada Pemerintah untuk menganugrahkan gelar pahlawan untuk Gus Dur. ''(Yaitu) gelar pahlawan untuk atas peran Gus Dur yang luar biasa dalam memberikan pondasi masyarakat sipil, toleransi kehidupan beragama, multikulturisme, dan perdamaian abadi atas dasar humanisme universal,'' ujar dia. ann/eye

sumber : http://www.republika.co.id/berita/99153/Duka_Cita_untuk_Gus_Dur_dari_Twitter_Facebook_dan_Parpol

Tata Young: Indonesia is My Second Country


Penyanyi seksi asal Thailand, Tata Young, mengaku kalau Indonesia jadi rumah keduanya, setelah lama berkarir sebagai biduanita internasional.

"Sejak album pertama, saya dapat banyak respon dari media dan saya tidak pernah menyangka banyak orang akan menanggapi sebesar itu. terutama Bloody Valentine (salah satu lagu terbaru Tata Young --Red). Termasuk juga di Indonesia," ungkap perempuan kelahiran Bangkok, 14 Desember 1980 itu.

"Dan sekarang, Indonesia is my second country untuk pertumbuhan album saya," tambah Tata.

"Saya juga punya Twitter, tapi tidak begitu aktif. Saya juga ada Facebook. Dan uniknya, ada 700 teman saya di Facebook dari Indonesia. Kebanyakan dari Indonesia," ujar Tata.

Hal tersebut dijelaskan Tata Young, yang untuk kesekian kali kembali ke Indonesia, kali ini untuk sebuah konser di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, pada malam Tahun Baru 2010.

Pemilik nama lengkap Amita Marie Young ini juga berpendapat, pasar Indonesia telah menjadi bagian dari "pertumbuhan" karirnya sebagai salah seorang penyanyi kelas internasional, khususnya di kawasan Asia.

"Memang telah banyak penyanyi Asia yang telah berhasil menembus pasar internasional. Saya rasa, itu semua bisa terjadi karena adanya dorongan dari pasar Asia itu sendiri, sehingga negara-negara lain di luar Asia juga terdorong untuk membeli karya-karya musisi Asia," paparnya.

Salah satu contoh upaya saling mendukung antar-musisi Asia tersebut, telah dilakukan Tata saat melakukan kali pertama menggelar promosi album bahasa Inggris perdananya, I Believe, ke India. Promo tersebut juga dilanjutkan dengan kolaborasi penggarapan tiga klip video musik untuk sebuah karya layar lebar Bollywood.

"Saya sudah ke India untuk promosi album I Believe dan main di Bollywood. Tapi sayangnya, saya tidak bisa bahasa Hindi," ujarnya seraya tertawa mengenang momen di negara pemilik Taj Mahal itu.

"Saya tidak menganggap diri saya contoh untuk dijadikan model. Saya orang biasa yang juga melakukan kesalahan. Tapi bagi siapa pun yang ingin menjadi artis seperti saya, bekerja keras lah. [EL]

sumber : http://www.gatra.com/2009-12-30/artikel.php?id=133410

Dan Gembel pun Bergaya Hidup Mobile


Jika Anda ditanya tentang karakter orang Indonesia, jawab saja seperti ini: Masyarakat Indonesia adalah pengguna layanan Friendster nomor 2 terbesar di dunia, pengguna layanan Plurk nomor 2 terbesar di dunia, pengguna layanan Blogger nomor 2 terbesar di dunia, dan pengguna layanan Facebook (pernah menjadi) nomor 2 terbesar di dunia.
Jika masih kurang, tambahkanlah fakta bahwa masyarakat Indonesia juga merupakan pencipta traffic nomor 2 terbesar di dunia pada browser Opera mini (yang umumnya terpasang pada ponsel atau PDA). Sebanyak 63% dari traffic tersebut ”mbulet” pada situs-situs media sosial (social media) seperti tercermin dengan gamblang pada lead di atas.
Masih ada lagi? Masih. Indonesia juga menduduki peringkat nomor 2 di dunia sebagai konsumen iklan impresi pada situs dalam jejaring AdMob. Secara pertumbuhan, malah merupakan yang tertinggi di dunia.
Lantas, perlu pula disampaikan bahwa pengguna layanan Yahoo! Go terbesar di Asia ada di negeri ini. Sedang secara worldwide, posisinya ada di nomor 2. Sayangnya, beberapa bulan lalu layanan ini dipungkasi oleh Yahoo! Sendiri.
Fakta-fakta tersebut dikompilasi oleh I Made Harta Wijaya, Vice President, VAS & Product Development, PT Exelcomido Pratama (XL) dalam seminar New Wave of Mobile Internet dalam rangkaian Indonesia Cellular Show, Juni 2009.
 
Masyarakat Gaul
Dari data-data tersebut dapat disimpulkan secara agak kasar bahwa masyarakat Indonesia pada hakekatnya memiliki hasrat bersosialisasi yang sangat tinggi. Bahkan hebatnya juga, sering mereka menjadi yang terdepan, early adopter, dan tetap bercokol dalam pusat pusaran trend pergaulan dunia tersebut ketika pusarannya makin membesar dan menggerus makin banyak orang tersedot ke dalamnya.
Contoh yang paling kentara adalah partisipasi masyarakat pada layanan Facebook. Pada awal tahun 2009 ini, pengguna di Indonesia langsung menggebrak di papan atas secara jumlah, hingga sempat menduduki posisi nomor 2 terbanyak di dunia. Seperti api disiram minyak, kobarnya membesar dan melahap apa saja. Mei tahun ini, jumlahnya masih sebesar sekitar 3 juta orang, namun pada bulan November, jumahnya sudah membengkak menjadi 12 juta orang. Tak heran jika pertumbuhan anggota absolut per minggunya tercatat merupakan yang tertinggi di dunia.
Aktivisme pergaulan orang Indonesia di Facebook ini menyaingi negara-negara besar dan modern yang secara teknologi sudah berada dalam tataran advance. Berikut ini urutan jawara Facebooker di dunia menurut checkfacebook.com (per 3 November 2009):
1.        Amerika Serikat          94,748,820
2.         Inggris                         22,261,080
3.         Turki                            14,215,880
4.         Prancis                         13,396,760
5.         Kanada                        13,228,380
6.         Italia                            12,581,060
7.         Indonesia                    11,759,980
8.         Spanyol                       7,313,160
9.         Australia                      7,176,640
10.       Filipina                        6,991,040
Tak begitu lama sebelumnya, dunia jejaring sosial di Tanah Air didominasi oleh demam Friendster. Sampai dengan akhir Desember 2008, menurut laporan “State of the Mobile Web” dari Opera, Friendster merupakan layanan jejaring sosial (salah satu bentuk dari social media) yang paling banyak digunakan di Indonesia. Pertumbuhan sepanjang tahun untuk Friendster adalah Friendster mencatatkan pertumbuhan 670,94 persen. Facebook, saat itu, masih berada di urutan ketiga, namun pertumbuhannya sangat mencengangkan, yaitu setinggi 4379,23 persen. Wajar jika pada bulan Juni tahin 2009, laporan yang sama menunjukkan bahwa posisi nomor urut satu sudah ditempati oleh Facebook.
Bagi masyarakat Indonesia, Facebook juga identik dengan Internet melalui ponsel atau dalam bahasa konseptual: mobile Internet. Sebelumnya, di era Friendster, akses jejaring sosial masih sangat terbatas dilakukan melalui PC atau laptop. Dengan kehadiran Facebook, masyarakat dengan suka rela dan tanpa paksaan mengakses mobile Internet. Malah dalam banyak kasus, mereka tak tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah Internetan via ponsel, yang mereka tau hanyalah Facebook-an.
Tak heran jika tahun 2009 ini menjadi saksi fenomena demam ”ponsel untuk Facebook”, baik kelas ponsel elit BlackBerry maupun ponsel-ponsel bikinan Cina yang dimirip-miripkan dengan BlackBerry. Jika BlackBerry dibeli orang untuk urusan bisnis (umumnya malu diakui sebagai ponsel untuk Facebook-an), maka ponsel Cina dengan gagah perwira dijual dengan embel-embel ”ponsel Facebook-an”. Dengan harga yang dipatok murah, peluncuran ”ponsel Facebook” ini selalu menciptakan fenomena antrean panjang.
Secara demografis, para pengantre ”ponsel Facebook” itu mungkin merupakan kelas masyarakat menengah-bawah dalam strata sosial. Namun tak bisa dipungkiri bahwa secara faktual, mereka jugalah yang merupakan komunitas baru pengguna mobile Internet yang makin hari makin meningkat. Menurut Opera, jumlah pengakses Internet melalui peranti bergerak, yaitu ponsel dan sejenisnya, di Indonesia saat ini adalah sekitar 9 juta pengguna. Mereka ini rata-rata mengakses 591 halaman situs per bulannya. Sekali lagi ini merupakan prestasi, merupakan jumlah yang sangat tinggi di dunia, melampaui rata-rata dunia yang hanya 250 halaman.
Jadi, mungkin sebaiknya semua pihak yang berkepentingan dengan bisnis mobile Internet membarui pola pikir lama mereka yang menempatkan industri ini dalam jagad yang elitis. Kini, pengakses layanan itu bisa saja mereka yang rela berjuang mengantre dalam terik matahari sepanjang subuh sampai maghrib hanya untuk mendapatkan harga promosi dari sebuah ponsel yang bisa Facebook-an. Dandanannya mungkin gembel bin belel, tapi mereka aktif mengakses Internet secara mobile. Selera musiknya mungkin saja buruk, namun mereka mabuk Facebook.
 
Berkah bagi Operator
Made Harta Wijaya menambahkan, rasio pendapatan operator telekomunikasi Indonesia dari voice dan non-voice dari tahun 2008 sampai tahun 2012 masih akan relatif tetap secara persentase, yaitu sekitar 67% dan 33%. Namun secara nominal, pendapatan dari non-voice yang pada tahun 2008 mencapai 25 triliun rupiah, pada tahun 2012 diperkirakan akan mencapai 36 triliun. Dan dari 36 triliun rupiah itu, 60%-nya, atau senilai 21,6 triliun, akan merupakan pendapatan dari Value Added Service. Sisanya yang 14,4 triliun ditangguk dari SMS.
Bagi operator, pertumbuhan pesat layanan semacam jejaring sosial ini memiliki konsekuensi baru. Sebelumnya, operator berkutat pada layanan VAS tradisional yang satuan ukurannya adalah jumlah konten yang dikonsumsi oleh pengguna. Contohnya adalah: ringback tone (RBT), mobile advertising, aplikasi, content seperti game atau ringtone, dan IVR (Interactive Voice Response).
Sedang dengan jejaring sosial dibutuhkan perhitungan-perhitungan yang berbeda. Satuan ukuran yang digunakan tak lagi sesederhana hitungan jumlah konten yang di-download pengguna, melainkan jumlah halaman yang dikunjungi. Dalam hal ini operator lebih menjual layanan mobile data/Internet, dan memiliki dua pilihan jualan: berbasis kapasitas atau berbasis waktu.
Maraknya jejaring sosial juga memudahkan operator dan vendor handset mengemas dagangan. Kalau dulu semua operator sibuk memberi edukasi tentang GPRS, 3G atau 3,5G, kini mereka tidak perlu lagi bersusah-payah berkutat dengan istilah-istilah yang kurang seksi tersebut. Kini, mereka cukup menyebut-sebut aplikasi-aplikasi jejaring sosial macam Facebook, Twitter atau Yahoo! Messenger, dan umumnya pelanggan tidak rewel dengan infrastruktur data macam apa yang digunakan di baliknya.
Jadi, apakah tahun-tahun ke depan ini merupakan masa panen bagi operator? Dengan tingkat pertumbuhan pengguna data yang begitu pesat, dapat dikatakan bahwa memang ”ladang sudah siap untuk ditanami”, tak perlu lagi bersusah-payah membajak dan mencangkul, cuaca juga sedang bagus-bagusnya. Ibaratnya, operator tinggal memilih ”tanaman” (apa saja) yang paling bisa berkembang dan menguntungkan.
Hanya saja, problem pemilihan ”tanaman” alias konten yang harus dijual memang dari dulu merupakan kerja yang tidak sederhana. Kali ini Facebook merupakan layanan yang paling laris, yang mungkin merupakan sesuatu yang unprecedented untuk masa satu dekade lalu. Tahun depan, mungkin social networking masih tetap berjaya, namun mungkin pula bersalinrupa menjadi bentuk interaksi sosial digital lain.
Yang jelas, kabar baiknya, tidak pernah ada trend turun dalam volume penggunaan mobile Internet. Hanya saja margin keuntungan dan Average Rate Per User (ARPU) layanan voice dan non-voice memang cenderung terus-menerus turun.
Perang tarif yang terjadi pada layanan voice juga telah merembet ke perang tarif pada layanan non-voice. Jika dicermati, tingkat harga yang ditawarkan oleh layanan akses data unlimited saat ini yang berkisar 150-200 ribuan per bulan sama levelnya dengan ARPU yang dinikmati oleh para operator di masa jaya layanan voice. Kisaran yang sama berlaku untuk layanan BlackBerry Internet Service (BIS).
Malah jika kebutuhan layanan data Anda bisa dibatasi pada akses email dan chatting, kocek Anda bisa dibatasi untuk hanya mengeluarkan dana sebesar sekitar 50 ribu rupiah per bulan melalui berbagai layanan BlackBerry versi ”irit” alias lite yang digelar oleh beberapa provider BlackBerry di Indonesia.
Lucunya, terjadi ironi dalam soal BlackBerry. Ponsel pintar yang tak salah bila digolongkan ke dalam kasta ”ponsel ningrat” ini di Tanah Air mendapat ”sentuhan egaliter”. Adalah XL yang memelopori tarif termurah berbasis harian untuk layanan BlackBerry, yaitu sebesar 5000 rupiah per hari. Malah kemudian disusul dengan tarif “starter” 2000 rupiah untuk hari pertama registrasi.
Poinnya adalah bahwa mulai ada perang tarif layanan data, sebagaimana belum lama terjadi di sektor voice. Maraknya Facebook dan layanan jejaring sosial lainnya adalah indikator mutlak makin terjangkaunya tarif akses data di Tanah Air. Dari sisi konsumen, ini adalah berita gembira.Kebutuhan eksis dan narsis akan dapat terselenggara dengan biaya yang masuk akal.
Namun dari sisi operator, bisa jadi ini merupakan penyebab pening kepala. Jika terjadi perang tarif yang konyol seperti pada masa lalu, maka sudah pasti mereka tak akan sempat mengeruk pendapatan dari booming data dalam kurun waktu yang cukup lama. ARPU data akan juga segera melorot drastis. Boleh jadi tahun ini mereka akan bersukaria meraup revenue yang besar dari data. XL, misalnya, menurut Kencono Wibowo, Vice President PT XL Axiata Tbk Central Region, memroyeksikan pertumbuhan pendapatan data dan Internet pada 2010 mencapai 200%. Namun apakah perang tarif akan mampu melestarikan momentum ini? Jangan-jangan tahun depan ini persaingannya akan “all out” cenderung brutal.
Memang perang semacam itu bukan perang yang bisa dihindarkan begitu saja. Malah merupakan perang yang tak boleh ditinggalkan jika tak ingin tersingkir dari bisnis mobile data. Hanya saja operator sebaiknya mengembangkan aplikasi dan konten sendiri tidak sekadar menggantungkan pada aplikasi pihak lain. Dengan kiat ini maka operator bukan hanya sekadar menjadi jalanan yang digunakan oleh layanan orang lain, yang meski ”ada duitnya” namun tetap saja marginnya tidak bisa di-set secara maksimal. Operator perlu aplikasi dan konten yang mengikat pelanggan sekaligus memaksimalkan kekuatan VAS mereka.
Ide aplikasi yang banyak dibicarakan sekarang adalah membonceng hebohnya layanan jejaring sosial dengan cara memboyongnya menjadi ”mobile social networking”. Jejaring sosial ini dapat dijalankan di atas platform data sederhana namun yang masih merupakan kompetensi utama operator: SMS atau MMS. Dengan memiliki sendiri ”killer application”, operator bisa memangkas setidaknya sewa bandwidth, dan juga sekaligus mengoptimalkan resource yang mereka kuasai sendiri.
Harus diakui bahwa menciptakan dan mengedukasi pasar sendiri seperti ini bukan perkara mudah. Lebih mudah menempel ke pusaran trend yang sedang digandrungi dan mengais remah-remah rezeki darinya. Namun masa sih kita tidak bisa membidik kerinduan paling dalam masyarakat sendiri akan sebuah aplikasi yang bisa mewakili budaya dan kebutuhan paling mendasar mereka? Mark Zuckerberg saja bisa membangun Facebook yang diamini masyarakat dunia mampu mewakili hasrat mereka dalam menghidupkan relasi antarmanusia melalui dunia maya. Mengapa kita tidak bisa?
Dan, mari bicara secara idealis, mengembangkan layanan social media yang bagus dan berkualitas berarti ikut membangun bangsa dan negara ke arah yang lebih baik. Mengapa? Karena, menurut Bill Tancer, seorang analis data Internet, saat ini social media telah menggusur pornografi sebagai aktivitas nomor satu, yang paling banyak dilakukan, di Internet.***
(F.X. Bambang Irawan, Editor in Chief of InfoKomputer Magazine, Tabloid PCplus, and Tabloid Sinyal)

sumber : http://www.tabloidpcplus.com/index.php/news/read/4485/Dan%20Gembel%20pun%20Bergaya%20Hidup%20Mobile

Ketua Asosiasi Pendeta: Kita Kehilangan Tokoh Sentral Pluralisme dan Demokrasi

Jakarta, RMOL. Salah seorang sahabat karib Gus Dur, Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia Tjahjadi Nugroho, menyatakan sangat berduka atas kepergian mantan presiden yang dijuluki bapak bangsa itu.

"Kita kehilangan besar satu tokoh sentral yang mengabdi untuk bangsa. Di tengah kegamangan kita kehilangan Gus Dur. Mari kita doakan. Yang penting jiwa perjuangannya kita lanjutkan. Gus Dur akan sangat gembira kalau cita-citanya kita pegang teguh," ujar Tjahjadi kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu, Rabu malam (30/12).

Menurutnya, Gus Dur adalah tokoh yang menunjukkan secara praksis contoh bagaimana seharusnya bangsa Indonesia hidup.

"Dia mengutamakan bangsa mendahulukan kepentingan bangsa dan membangunnya dengan pluralis dan demokratis dia menunjukkan secara praksis bagaimana Indonesia hidup," katanya.

Tjahjadi mengaku baru dua malam lalu berkomunikasi dengan Gus Dur lewat telepon karena dirinya selama lima hari terakhir sedang mengikuti Musyawarah Nasional Pendeta di salatiga, Jawa Tengah.

"Gus Dur sempat tanyakan saya dimana. Saya sangat sedih," tutupnya.
[ald]


sumber : http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/12/30/85752/Ketua-Asosiasi-Pendeta:-Kita-Kehilangan-Tokoh-Sentral-Pluralisme-dan-Demokrasi-

Ketua MUI Jabar Terkesan Daya Hapal Gus Dur

Bandung (ANTARA News) - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat, KH Hapidz Utsman, menyatakan, terkesan dengan daya hapal seorang KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur semasa hidupnya.

"Satu hal yang tidak akan saya lupakan darinya, yakni daya hapalnya, baik daya hapal AlQuran, daya hapal membaca buku, bahkan mengingat no telefon temannya," ujar KH Hafidz, kepada ANTARA, Rabu.

Selama mengenal Gus Dur, KH Hapidz Utsman, mengaku kagum dengan daya ingat Gus Dur yang sangat kuat.

Dirinya menyatakan, Indonesia telah kehilangan seorang negarawan dengan meninggal dunianya KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur.

"Sekali lagi, bangsa ini kehilangan sosok negarawan dengan kepergian rekan saya KH Abdurahman Wahid," kata Hapidz.

Ia menyatakan, Gus Dur ialah seorang negarawan yang sederhana, simpel dan tidak pernah macam-macam.

"Gusdur itu seorang yang sederhana, orangnya simpel dan tidak pernah macam. Kalau berbincangnya, beliau (Gus Dur) tidak pernah ngomongin masalah duit, yang dia omongkan itu soal rakyat, bagaimana nasib bangsa Indonesia dan cara untuk memanjukannya," kata KH Hapidz Utsman.

Dirinya mengaku, mendapatkan kabar kematian Gus Dur dari dia halaman.

Pihaknya menganjurkan supaya masyarakat seluruh masyarakat Indonesia mendoakan Gus Dur supaya arwahnya diterima di sisi Allah SWT.

"Kalau boleh menganjurkan, saya harap seluruh masyarakat Indonesia berdoa atas kematian Gus Dur, kemudian keluarga besar Gus Dur diberikan ketabahan oleh Allah SWT," katanya.

Mantan Presiden RI, KH Abdurrachman Wahid atau Gus Dur meninggal dunia pada usia 68 tahun di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta.(*)

sumber : http://www.antara.co.id/berita/1262177808/ketua-mui-jabar-terkesan-daya-hapal-gus-dur

Mengenang Perjalanan Hidup Gus Dur


KOMPAS.com — Kiai Haji Abdurrahman Wahid yang sering dikenal dengan nama Gus Dur adalah salah satu tokoh nasional yang banyak mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Cucu ulama besar KH Hasyim Asy'ari tersebut pernah menjabat Ketua Nahdlatul Ulama. Gus Dur pula yang mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB pada era reformasi.

Gus Dur meninggal dunia pada Rabu (30/12/2009) sekitar pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah sempat dirawat beberapa hari dan menjalani cuci darah. Gus Dur meninggalkan seorang istri, Shinta Nuriyah, dan empat anak, masing-masing Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zanuba Arifah, Anita Hayatunnufus, dan Inayah.

Perjalanan hidupnya dimulai di Jombang, Jawa Timur, tempat ia lahir pada 4 Agustus 1940. Ia menjalani pendidikan sekolah dasar di Jakarta sejak tahun 1953 dan melanjutkan ke SMEP di Yogyakarta tahun 1956. Kemudian, Gus Dur melanjutkan pendidikan di pesantren Tambakberas Jombang pada tahun 1963. Gus Dur juga sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Kairo dan Fakultas Sastra, Universitas Baghdad, Irak, pada tahun 1970 tetapi tak sempat menyelesaikan.

Selepas itu, Gus Dur berkarier menjadi guru dan dosen selama bertahun-tahun. Gus Dur menjadi Guru Madrasah Mu'allimat, Jombang (1959 - 1963), Dosen Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974), dan Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974).

Gus Dur juga aktif di pesantren menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng, Jombang (1974-1979) dan menjadi konsultan di berbagai lembaga dan departemen pemerintahan pada tahun 1976. Selanjutnya, Gus Dur menjadi pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta, sejak tahun 1976 hingga sekarang.

Di organisasi Nahdlatul Ulama, Gus Dur menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama tahun 1979-1984. Ia juga menjabat Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk empat periode. Masing-masing 1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999, dan 2000-2005.

Sementara itu di bidang pemerintahan, Gus Dur pernah duduk, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Ia menjadi anggota MPR dari utusan golongan  selama dua periode. Masing-masing periode 1987-1992 dan 1999-2004. Karier politik tertingginya adalah menjadi Presiden RI selama 2 tahun pada 1999-2001.

Gus Dur dikenal sebagai tokoh kerukunan umat beragama, bahkan cukup kontroversial karena menjadi anggota Dewan Pendiri Shimon Peres Peace Center, Tel Aviv, Israel. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Kelompok Tiga Agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi, yang dibentuk di Universitas Al Kala, Spanyol, serta Pendiri Forum 2000 (organisisasi yang mementingkan hubungan antaragama). Ia juga pernah menjabat Ketua Dewan Internasional Konferensi Dunia bagi Agama dan Perdamaian atau World Conference on Religion and Peace (WCRP), Italia, tahun 1994.

Gus Dur juga pernah menjadi Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) Dewan Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) periode 1983-1985. Meski mengalami penurunan kemampuan melihat, Gus Dur dikenal masih suka membaca melalui suido book bahkan sampai menjelang akhir hayatnya. Ia juga dikenal produktif menulis artikel dan buku.

Gus Dur juga banyak mendapat penghargaan, seperti gelar doktor honoris causa dari Universitas Jawaharlal Nehru, India, Bintang Tanda Jasa Kelas 1, Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan dari Pemerintah Mesir, Pin Penghargaan Keluarga Berencana dari Perhimpunan Keluarga Berencana I, Ramon Magsaysay, Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI BJ Habibie, gelar doktor honoris causa bidang perdamaian dari Soka University Jepang (2000), Global Tolerance Award dari Friends of the United Nations New York (2003), World Peace Prize Award dari World Peace Prize Awarding Council (WPPAC) Seoul Korea Selatan (2003), Presiden World Headquarters on Non-Violence Peace Movement (2003), penghargaan dari Simon Wiethemtal Center Amerika Serikat (2008), penghargaan dari Mebal Valor Amerika Serikat (2008), penghargaan dan kehormatan dari Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat, yang memakai namanya untuk penghargaan terhadap studi dan pengkajian kerukunan antarumat beragama, Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study (2008).

sumber : http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/12/30/19533632/Mengenang.Perjalanan.Hidup.Gus.Dur

Gus Dur Ingin Dimakamkan Dekat Makam Ayahnya

TEMPO Interaktif, Jakarta - Maman Immanulhaq, Dewan Suro Partai Kebangkitan Bangsa mengatakan, mantan presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengatakan ingin dikebumikan di lokasi pemakaman ayahnya, KH Wahid Hasyim, tokoh Nahdlatul Ulama.

Hal itu dikemukakan presiden keempat Indonesia ini tepat setahun lalu kepada Maman. “Itu yang saya ingat,” katanya saat diwawancarai di stasiun televisi swasta, tvone, Rabu (30/12) ketika memberi keterangan soal kebenaran berita bahwa Gus Dur meninggal dunia pukul 18.40 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tadi.

Namun Maman juga mengatakan, hingga saat ini belum ada kepastian lokasi pemakaman jenazah Gus Dur. Hal senada disampaikan adik Gus Dur, Sholahuddin Wahid. “Soal pemakaman masih akan dibicarakan dengan keluarga,” katanya.

Pekan lalu sempat diberitakan, kondisi kesehatan Gus Dur semakin membaik setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mengunkusumo. Dhohir Farisi, suami Zannuba Arifah Chafsoh putri Gus Dur ketika itu sempat drop saat ia melakukan kunjungan ke Jombang.

"Selain itu karena selama beberapa hari ini sering telat makan sebab gigi Gus Dur sakit," katanya. Sejak sekitar dua minggu lalu abses gigi geraham kiri bawah Gus Dur bengkak sehingga menggaggu selera makan.

Usai kunjungannya di Jombang, kondisi kesehatan Gus Dur makin melemah. Gus Dur pun langsung diterbangkan ke Jakarta untuk dirawat. Rencananya, Senin (28/12) kemarin Gus Dur akan menjalani operasi pencabutan gigi.

Tokoh kelahiran Denanyar, Jombang, 4 Agustus 1940 ini meninggal tadi petang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Gus Dur meninggalkan empat anak yakni Alisa Qotrunada, Zanuba Arifah, Anisa Hayatunufus, Inayah Wulandari, dan seorang istri, Sinta Nuriyah.

sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/12/30/brk,20091230-216499,id.html