VIVAnews - Hari ini, Kamis 14 januari 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin rapat Kabinet Indonesia Bersatu II di kantornya. Agendanya, soal evaluasi program 100 hari.
Menurut informasi, SBY marah karena para menteri belum mencapai target. Namun, hal tersebut dibantah Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring.
"Tadi kita hanya berbicara mengenai program 100 hari kabinet secara umum," kata Tifatul, Kamis petang.
Soal pencapaian para menteri, "rata- kita sudah di atas 82 persen," kata Tifatul.
Ditambahkan dia, masih ada waktu untuk para menteri. "Masih ada sampai tanggal 1 Februari. Kita akan kejar," tambah dia.
****
Program 100 hari ini baru berakhir pada akhir Januari 2010 ini, namun Presiden menyatakan evaluasi akan digelar mulai pekan ini. "Hari ini kita melakukan rapat, mengukur berapa persen sasaran yang sudah dicapai dan berapa persen yang belum dicapai," kata SBY membuka rapat di kantor Presiden, Jakarta, Kamis 14 Januari 2010. "Tentu itu tidak tepat untuk mengukur kinerja pemerintah dalam 100 hari."
"Pemerintah melihat sebagian masyarakat mengatakan bahwa pemerintah dianggap gagal dalam 100 hari. Padahal saya sendiri dan Pak Boediono tidak pernah berjanji dalam 100 hari bisa menyejahterakan rakyat meski kita sudah berupaya dengan program yang ada," kata SBY.
Karena itu, SBY meminta rakyat menunggu sampai lima tahun masa jabatannya. "Masih ada program-program berikutnya yang waktunya lima tahun untuk Mengukur kinerja pemerintah," ujar SBY.
Namun SBY menyatakan, Program 100 hari ini merupakan landasan bagi program-program berikutnya.
sumber : http://nasional.vivanews.com/news/read/121352-tifatul_klaim_82____program_sudah_berjalan
Showing posts with label program. Show all posts
Showing posts with label program. Show all posts
Thursday, January 14, 2010
Wednesday, January 13, 2010
Program 100 Hari SBY-Boediono Diwarnai Gonjang-ganjing Politik
TEMPO Interaktif, Surabaya - Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti mengatakan seratus hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang jatuh pada 22 Januari mendatang diwarnai gonjang-ganjing politik.
"Tidak henti-hentinya terus terjadi sejak SBY dilantik," kata Ikrar pada seminar nasional menyikapi kasus Century menjelang 100 hari kepimpinan SBY-Boediono di Universitas Airlangga Surabaya, Rabu (13/1).
Kata dia, gonjang-ganjing politik terjadi sejak kasus perseteruan Cicak-Buaya antara Komisi Pemberantasan Korupsi dengan Kepolisian Republik Indonesia.
Setelah itu, kata dia, adalah kasus Anggodo Wijoyo yang diduga mengatur kasus rekayasa terhadap anggota KPK yaitu Bibit Slamet Rianto dan Chandra M Hamzah. Dan yang saat ini adalah kasus Century yang sekarang sedang diselidiki panitia khusus Dewan Perwakilan Rakyat.
Menurut dia, gonjang-gonjing politik ini berdampak pada menurunnya kepercayaan diantara koalisi pemerintahan dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan SBY. "Kondisi pemerintahan SBY akan semakin sulit," kata Ikrar. Apalagi, kata dia, bila SBY terlalu lamban mengambil kebijakan.
Elit politik dan mahasiswa, kata dia, juga terpengaruh oleh kondisi politik saat ini. "Elit politik akan diam kalau kasus ini dipeti es kan dan kepentingan tiap partai dipenuhi SBY," ujarnya.
Ia menyesalkan tindakan SBY yang berkelit saat menyikapi program seratus hari pemerintahnya. "SBY mengatakan seratus hari tidak berarti dibandingkan keberhasilan lima tahun saat ia memimpin," ujarnya.
Padahal, kata Ikrar, keberhasilan jangka pendek akan mempengaruhi secara berkesinambungan keberhasilan jangka panjang.
Dosen hukum politik, Universitas Airlangga Surabaya, Airlangga Pribadi mengatakan kasus Century telah membuka ruang publik untuk mengkritisi kebijakan pemerintahan. "Tugas mahasiswa adalah terus menekan pemerintahan untuk membersihkan elit politik yang telah melakukan kesalahan besar," katanya.
sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2010/01/13/brk,20100113-218900,id.html
"Tidak henti-hentinya terus terjadi sejak SBY dilantik," kata Ikrar pada seminar nasional menyikapi kasus Century menjelang 100 hari kepimpinan SBY-Boediono di Universitas Airlangga Surabaya, Rabu (13/1).
Kata dia, gonjang-ganjing politik terjadi sejak kasus perseteruan Cicak-Buaya antara Komisi Pemberantasan Korupsi dengan Kepolisian Republik Indonesia.
Setelah itu, kata dia, adalah kasus Anggodo Wijoyo yang diduga mengatur kasus rekayasa terhadap anggota KPK yaitu Bibit Slamet Rianto dan Chandra M Hamzah. Dan yang saat ini adalah kasus Century yang sekarang sedang diselidiki panitia khusus Dewan Perwakilan Rakyat.
Menurut dia, gonjang-gonjing politik ini berdampak pada menurunnya kepercayaan diantara koalisi pemerintahan dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan SBY. "Kondisi pemerintahan SBY akan semakin sulit," kata Ikrar. Apalagi, kata dia, bila SBY terlalu lamban mengambil kebijakan.
Elit politik dan mahasiswa, kata dia, juga terpengaruh oleh kondisi politik saat ini. "Elit politik akan diam kalau kasus ini dipeti es kan dan kepentingan tiap partai dipenuhi SBY," ujarnya.
Ia menyesalkan tindakan SBY yang berkelit saat menyikapi program seratus hari pemerintahnya. "SBY mengatakan seratus hari tidak berarti dibandingkan keberhasilan lima tahun saat ia memimpin," ujarnya.
Padahal, kata Ikrar, keberhasilan jangka pendek akan mempengaruhi secara berkesinambungan keberhasilan jangka panjang.
Dosen hukum politik, Universitas Airlangga Surabaya, Airlangga Pribadi mengatakan kasus Century telah membuka ruang publik untuk mengkritisi kebijakan pemerintahan. "Tugas mahasiswa adalah terus menekan pemerintahan untuk membersihkan elit politik yang telah melakukan kesalahan besar," katanya.
sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2010/01/13/brk,20100113-218900,id.html
Subscribe to:
Posts (Atom)